ENREKANG (ibshidayatullahenrekang.id) — Pagi itu, Kampus Pratama Hidayatullah Enrekang tidak hanya dipenuhi barisan kursi dan spanduk kegiatan. Ia dipenuhi semangat. Selasa, 10 Februari 2026, atau 22 Sya’ban 1447 H, para kader dari dua wilayah—Enrekang dan Tana Toraja—datang membawa satu niat yang sama: menyulam kembali jati diri perjuangan dan meneguhkan arah transformasi organisasi.
Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang pertemuan gagasan, tekad, dan harapan. Mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Enrekang–Tana Toraja yang Mandiri dan Berpengaruh”, forum ini diarahkan untuk menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana Hidayatullah tetap setia pada nilai, namun berani melangkah lebih jauh dalam pengabdian?
Di hadapan para peserta, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Ust. Sholeh Usman, S.S., M.I.Kom., mengingatkan bahwa konsolidasi bukan sekadar menyatukan struktur, tetapi menyatukan ruh.
“Transformasi tidak boleh memutus akar. Kita boleh berubah dalam metode dan manajemen, tetapi jati diri perjuangan harus tetap kokoh. Dari situlah pengaruh lahir,” tuturnya.
Di sisi lain, Dewan Murabbi Wilayah, Ust. Drs. Anwar Baits, S.Pd., mengajak para kader menengok kembali makna tarbiyah sebagai jantung gerakan.
“Kekuatan Hidayatullah bukan pertama-tama pada gedung atau program, tapi pada kader yang berjiwa dakwah. Konsolidasi jati diri berarti menghidupkan kembali ruh itu dalam setiap lini amal,” ujarnya dengan nada meneguhkan.
Momentum Rakerda juga ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan Pergantian Antar Waktu (PAW) Ketua DPD Hidayatullah Tana Toraja. Di forum itu, Seli, S.Ag. resmi menerima amanah menggantikan ketua sebelumnya. Bagi Seli, kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan ladang pengabdian.
“Amanah ini akan kami jaga dengan kerja kolektif. Kami ingin Hidayatullah di Tana Toraja hadir lebih dekat, lebih rapi, dan lebih terasa manfaatnya oleh umat,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Enrekang, Irwan Mujahid, S.Pd., M.Pd., melihat Rakerda Gabungan sebagai pertemuan dua potensi besar yang harus disinergikan.
“Enrekang dan Tana Toraja adalah ladang dakwah yang luas. Jika kita berjalan sendiri-sendiri, hasilnya kecil. Tapi jika kita melangkah bersama, insya Allah pengaruhnya akan terasa lebih kuat,” katanya penuh optimisme.
Diskusi berlangsung hangat dan hidup. Di antara sesi-sesi, terselip kesadaran bersama: bahwa organisasi tidak cukup hanya rapi di atas kertas, tetapi harus terasa manfaatnya di tengah masyarakat. Dari penguatan kaderisasi, penataan amal usaha, hingga pelayanan umat—semuanya bermuara pada satu tujuan: menghadirkan Islam sebagai rahmat yang membumi.
Rakerda Gabungan ini menutup hari dengan satu pesan tak tertulis yang terasa di wajah-wajah peserta: perjuangan belum selesai. Justru ia sedang diperbarui. Dari Enrekang hingga Tana Toraja, Hidayatullah meneguhkan langkah—menyulam jati diri, menata organisasi, dan menyalakan kembali obor dakwah untuk umat dan bangsa.
Penulis : M. Karim Ibrahim
Editor : M. Karim Ibrahim







